20161225_081705

KARANGCEGAK. Jumlah penduduk Desa Karangcegak 30 persen masyarakatnya berprofesi sebagai penderes, makanya tidak heran

hampir diwilayah hutan, tegalan maupun disekitar rumah warga begitu banyak pohon kelapa yang menjulang tinggi.

Rata-rata dari mereka ada yang milik sendiri, tetapi ada juga hanya buruh milik tetangganya, dengan sistem  bagi hasil juga

ada yang sewa pohon kelapanya. Berikut berbagai tahapan-tahapan yang dilaksanakan dalam memperoleh GULA MERAH.

20161225_081930

Sebagai langkah awal sang penderes pergi ke lahan, untuk melakukan kegiatan rutin yaitu melakukan pemahatan pada bunga pohon kelapa

ini dilaksanakan sehari sampai dua kali, yaitu pada waktu pagi dan sore hari.

Pekerjaan yang tidak mudah dan dipandang sepele oleh sebagian warga, apalagi kalau dilihat pekerjaan tersebut memerlukan tenaga yang fit

dan benar-benar dalam kondisi yang sehat, karena naik turun memanjat pohon kelapa yang tingginya rata-rata mencapai 20 M diatas permukaan

tanah, tidaklah pekerjaan yang mudah, tetapi bagi mereka sudah menjadi kebiasaan dan salah satu pekerjaan pokoknya.

20161225_075713

Sesudah sampai di PUCUK POHON KELAPA dengan memanjat hingga puluhan meter, mulailah sang penderes mengiris bunga dari pohon kelapa

dalam bahasa jawa disebut dengan “MANGGAR” dengan memakai sabit yang begitu tajam, dalam pengirisan bunga hanya diiris setebal 0,1-0,2 cm saja, setelah bunga/manggar diiris tipis barulah dimasukan alat atau wadah yang namanya PONGKOR, terus diikatkan ke pelepah atau ke tangkai manggar tersebut, kebanyakan wadah terbut dari plastik yang bisa dibeli di tiko-toko pertanian. Tetapi ada juga yang dibuat dari potongan bambu berukuran sekitar 20-30 cm. Satu pohon kelapa bisa ditempati pongkor antara 2-3 buah/wadah, tergantung keluarnya bunga kelapa tersebut.

20161225_075137

Setelah dilakukan pengirisan, maka wadah atau pongkor yang dipasang kemarin sore dilepas dan diturunkan untuk kemudian diambil air niranya. karena dalam satu hari biasa dilakukan dua kali pemahatan untuk diambil air niranya dalam bahasa jawa disebut dengan “BADEG”

Pemahatan dan pemasangan PONGKOR dipagi hari akan diambil pada waktu sore hari, begitu juga pemahatan dan pemasangan sore hari akan diambil ke eseokan harinya, begitu seterusnya hingga menjadikan aktifitas rutin sehari-hari. Selanjutnya…….

20161228_155410

Air nira atau BADEG yang telah diperoleh kemudian dilakukan langkah pemrosesan yaitu dengan cara  masing-masing pongkor air niranya dituangkan dan disaring kedalam wajan besar ( KUALI ) dan untuk  selanjutnya direbus  dalam KUALI diatas tungku yang besar pula tentunya. Untuk kayu bakar rata-rata penderes mendapatkan atau dengan cara membeli limbah pabrik kayu atau dengan cara mencari sendiri di tempat dimana dia melakukan aktifitas sehari-hari, yaitu dengan pelepah pohon kelapa yang sudah tua atau garing. Tetapi ada juga yang menggunakan serbuk grajian limbah pabrik kayu.

Dalam perebusan air nira/badeg tersebut berjalan antara 3-4 jam  pemanasan sehingga sangatlah memakan tenaga dan kayu bakar yang banyak, perebusan tersebut tetap dilakukan pengadukan setiap dua puluh menit sekali hingga mengental dan berwarna merah, setelah mengental dan berwarna merah kemudian dilakukan pencetakan ke dalam wadah yang berbentuk bulat, kebanyakan dari masing-masing penderes dengan menggunakan potongan bambu berukuran  6-7 cm berbentuk bulat, sebagai wadah untuk mencetak gula merah. Selanjutnya…….

20161228_164745

seperti inilah bentuk gula merah yang baru saja dicetak kedalam cetakan bambu, itupun cetakannya tidak langsung diambil atau dilepas, dilepasnya setelah gula merahnya melembek dan perlahan-lahan. Proses selanjutnya……….

20170102_195928

Proses ahir perjalanan GULA MERAH….setelah dilepas dari pencetakan dan kering barulah dikumpulkan gula merahnya dan baru dikemas dalam wadah plastik dengan berat sekitar 10 kg, seperti yang nampak pada gambar itulah GULA MERAH yang dudah dikemas dalam wadah 10 Kg dan siap untuk diantar atau dijual ke pengepul gula merah yang ada di Desa, sebagian penderes yang ada di desa karangcegak pengepulnya juga warga desa Karangcegak, sehingga bisa saling bersinergi antara pembuat gula merah dengan pengepul gula merah.

Harga gula merah satu kilonya berkisar Rp. 12.500 s.d Rp. 15.000, tetapi harga tersebut tidaklah tetap, tergantung kondisi pasar. Terkadang kalau sedang anjlok hanya  berkisar delapan sampai sepuluh ribu rupiah, kemungkinan kalau diperhitungkan dengan biaya produksi dan tenaga tipis sekali keuntungannya, tetapi mau bagaimana lagi, karena sudah menjadi mata pencaharian warga desa, walaupun dengan harga yang kadang naik kadang turun hidup mereka cukup membaik.

Itulah gambaran dari manakah asalnya “GULA MERAH”  yang selalu kita konsumsi setiap harinya, tanpa jasa  dan tenaga dari mereka kaum penderes setiap makanan kurang lengkap nikmatnya apabila tidak menggunakan pemanis yaitu gula merah.

Di kabupaten Purbalingga pada umumnya dan di Desa Karangcegak Kecamatan Kutasari pada khususnya tidaklah asing pekerjaan sebagai penderes dan proses tahapannyapun sebagian warga di pedesaan mengetahui dari air nira atau BADEG menjadi GULA MERAH yang rasanya sangat manis, tetapi bagi warga di perkotaan tentunya ada yang belum mengetahui  dari mana asalnya GULA MERAH yang dikonsumsi sebagai pelengkap masakan setiap harinya.

Itulah sekelumit atau tahapan-tahapan dalam proses pembuatan GULA MERAH, mudah-mudahan bisa menjadi pengetahuan bagi yang ingin mengetahui proses  dari air kelapa/air nira menjadi GULA MERAH, walaupun masih kurang lengkap dalam penyajiannya, mudah-mudahan bisa jadi gambaran bagi semua yang membaca di web Desa karangcegak. Trima kasih…

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *